Pemeliharaan Musim Semi Memperketat Produksi Minyak

Permintaan bahan bakar yang meningkat di Asia serta penutupan beberapa kilang untuk perawatan musim semi menjaga harga minyak mentah dari penurunan lanjutan. Kondisi terjadi, menyusul banjir pasokan karena peningkatan produksi Amerika Serikat (AS).

WengInn Chin, seorang analis konsultan industri FGE di Singapura melihat beberapa produsen akan mengetatkan produksi pada Maret dan April karena pemeliharan. Beberapa negara yang akan melakukan pemeliharan, antara lain India, Srilanka dan di pantai sepanjang Teluk AS, yang tahun silam menghadapi penundaan akibat Badai Harvey.

Sanjiv Singh, ketua Indian Oil Corp. menilai permintaan diesel tahun ini masih cukup kuat, yang diperkirakan bakal tumbuh hingga di atas lima persen.

Mukesh Kumar Surana, ketua Hindustan Petroleum Corp. India, mengatakan produksi diesel Cina tidak setinggi perkiraan. Kondisi ini tak seimbang dengan permintaan tinggi, yang akhirnya memberi keuntungan lebih bagi perusahaannya.

Pemeliharaan Musim Semi Memperketat Produksi Minyak

Sementara itu, Ehsan Ul-Hag, Direktur Minyak Mentah dan Produk Olahan Resource Economist di London mengatakan dalam beberapa bulan ke depan, diesel akan memberi keuntungan yang besar, karena pemiliharaan di beberapa kilang produksi. Namun kondisi ini tidak akan bertahan lama. Pada semester dua tahun ini, katanya, kemungkinan besar pasokan akan kembali berlimpah.

Di sisi lain, Fitch Group’s BMI Research memperkirakan permintaan solar masih akan tinggi tahun ini karena negara berkembang seperti Asia sedang meningkatkan belanja infratruktur sehingga mendorong aktivitas kontruksi.

Pada akhir pekan lalu diesel premium diesel di Timur Laut Dubai, pada level sekitar US$ 15 per barel, turun setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak November 2014 sebesar US$ 17,04 pada 29 Januari.

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun sebesar US$ 1,95 atau 3,2 persen menjadi US$ 59,20 per barel. Angka ini merupakan level terendah sejak 22 Desember.

Dan harga kontrak berjangka (futures) minyak mentah jenis Brent turun sebesar US$ 2,02 per barel, atau 3,1 persen menjadi US$ 62,79 per barel, penutupan terendah sejak 13 Desember.