Kementerian Keuangan mengklaim penerbitan surat utang Syariah (sukuk) global hijau pada awal Maret 2018 lalu, dilakukan untuk memperkuat komitmen mengatasi dampak perubahan iklim. Selai itu, penerbitan sukuk global tersebut juga telah memperkuat posisi Indonesia di pasar keuangan syariah global.

Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan, Suminto, dalam Konferensi Keuangan Syariah ke-3 di Makassar, menyatakan penerbitan sukuk global hijau ini merupakan instrumen untuk memperluas basis investor keuangan syariah. “Inisiatif ini juga merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk mengurangi efek perubahan iklim dan aksi pengendalian perubahan iklim serta mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” kata Suminto seperti dikutip Antara.

Penerbitan Sukuk Hijau Perkuat Posisi RI di Pasar Syariah Global

Suminto memaparkan penerbitan sukuk global hijau yang baru pertama kali dilakukan oleh pemerintah Indonesia ini telah mendapatkan sambutan yang baik dari para investor, karena mampu menyerap dana sebesar US$ 1,25 miliar. Dia memastikan penerbitan surat utang syariah untuk mendukung pembangunan hijau ini akan dilakukan kembali, karena bisa mendorong Indonesia menjadi negara yang lebih rendah karbon, tahan atas perubahan iklim, dan mendorong target penurunan emisi sebanyak 26 persen pada 2020.

“Apabila tidak didukung dengan adanya green sukuk, penurunan emisi diperkirakan hanya akan mencapai 15 persen di tahun 2020,” kata Suminto.

Berbagai proyek yang mendapatkan manfaat dari penerbitan sukuk global hijau ini pada 2018, antara lain energi terbarukan, ketahanan terhadap perubahan iklim untuk daerah rentan bencana, transportasi berkelanjutan, pengelolaan energi dan limbah, serta pertanian berkelanjutan. Proyek-proyek ini tersebar di empat Kementerian/Lembaga (K/L), yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Penerbitan instrumen yang dilakukan pemerintah dibawah Kerangka Obligasi Hijau dan Sukuk Hijau (Green Bond and Green Sukuk Framework) ini telah mendapatkan opini medium green dari lembaga pemeringkat dan penilai internasional dari Norwegia, yaitu CICERO.

“Secara keseluruhan, pemerintah mengharapkan penerbitan sukuk global hijau ini bisa mendukung komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris di 2016 agar menjaga emisi karbon tetap rendah dan memperluas basis investor syariah di tingkat global,” paparnya.

Pertumbuhan Industri

Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo, mengaku lambatnya pertumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia merupakan hal yang mengecewakan. Mengingat fakta bahwa Indonesia memiliki penduduk muslim terbesar di dunia.

“Oleh karena itu, kita perlu mengintensifkan program pendidikan tentang literasi keuangan Islam,” kata Mardiasmo.CTA Banner

Mardiasmo mengatakan pasar keuangan Islam di Indonesia masih dalam fase pertumbuhan, dengan pangsa pasar agregat sekitar 5 persen. Kontributor terbesar untuk tingkat pangsa pasar ini adalah pasar saham sekitar 52,5 persen, diikuti oleh sukuk sebesar 17 persen, dan serta perbankan, asuransi, dan reksa dana Syariah yang masing-masing menyumbang sekitar 5 hingga 7,5 persen.

Dia mengingatkan, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kontribusi lembaga keuangan Islam di pasar keuangan. Termasuk untuk meningkatkan literasi keuangan Islam kepada masyarakat melalui pendidikan tentang keuangan Islam.

“Menurut indeks literasi keuangan Islam Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada tahun 2016 literasi keuangan Islam di Indonesia hanya 8,11 persen,” paparnya.

Mardiasmo, juga menggarisbawahi pentingnya meningkatkan peran teknologi finansial atau tekfin (financial technology/fintech) berbasis syariah. Ini untuk mempercepat pertumbuhan keuangan Islam. Indonesia yang memiliki populasi 260 juta dan sekitar 88 persennya beragama Islam.

Di sisi lain, meski pertumbuhan keuangan Islam cukup datar, Indonesia masih menempati urutan yang lebih baik dalam Islamic Finance Country Index 2018. Tahun ini, Indonesia menduduki peringkat enam, meningkat dari posisi tujuh tahun lalu.