Pengamat: Beli Saham pada Semester I dan Jual Sebelum Semester II

Pasar saham Indonesia diyakini mampu bertumbuh baik pada sepanjang 2018. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di atas pertumbuhan ekonomi global bisa menjadi salah satu pemicunya. Perhelatan pesta demokrasi, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) diyakini mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian.

Tahun ini Indonesia akan menggelar pesta demokrasi terbesar sepanjang sejarah, yakni digelarnya 171 Pilkada yang terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Belum lagi, pada 2019 mendatang Indonesia pun akan kembali melakukan pemilihan umum (Pemilu) Presiden dan Wakil Presiden (Wapres).

Faktanya, setiap kali Indonesia mengadakan Pemilu, baik itu Pilkada atau Pilpres, putaran uang di masyarakat akan bergerak lebih banyak dari biasanya. Hal tersebut terjadi karena akan ada banyak kegiatan bisnis yang luar biasa besar biayanya.

Mulai dari pencetakan poster, spanduk, umbul-umbul, kaus seragam, bagi-bagi sembako, dan kegiatan lainnya. Oleh karena itu, uang akan banyak berputar di masyarakat bawah. Secara otomatis roda ekonomi akan berputar lebih cepat dari biasanya.

“Dengan putaran uang yang bergerak lebih banyak daripada biasanya ini juga akan membuat market/bursa saham kita bisa bergerak lebih tinggi lagi,” kata Analis Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe dalam risetnya.

“Kami menyarankan untuk membeli saham-saham di semester 1 dan menjualnya ketika harganya sudah naik cukup tinggi sebelum semester 2 tahun 2018,” imbuhnya.

Pengamat: Beli Saham pada Semester I dan Jual Sebelum Semester II

Optimisme yang sama juga diutarakan Chandra Pasaribu, Analis Indopremier Sekuritas. Diakuinya memang sentimen politik tahun ini cukup kuat dan memberikan pengaruh. Namun pengaruhnya hanya terasa pada volatilitas, tidak berpengaruh pada fundamental.

“Kami targetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 7200 sampai akhir tahun yang ditopang oleh EPS (laba bersih per saham/earning per share) sekitar 13,5 persen,” ujar Chandra.

Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat mengatakan, ada dua faktor yang berkontribusi dalam pergerakkan bursa saham, khususnya di Indonesia, yakni faktor makro dan mikro.

“Faktor makro tentunya meliputi bagaimana laporan kinerja negara kita, terutama terkait dengan stabilitas nilai rupiah, tingkat inflasi, pengelolaan fiskal, dan faktor fundamental perusahaan,” ujarnya.

Tahun lalu laju inflasi pada kisaran 3,30 persen hingga 4,37 persen. Sementara pada awal tahun ini, tingkat inflasi masih terjaga di angka 3,25 persen.

Dalam catatan Samsul Hidayat, pertumbuhan pasar modal Indonesia dalam lima tahun terakhir terbilang cukup baik. Sepanjang periode 2012-2017 tingkat IHSG tumbuh sebesar 7,1% per tahun. Sejalan dengan pertumbuhan IHSG, aktivitas transaksi pada 2012-2017 pun tumbuh dari Rp 4 triliun ke Rp7,5 triliun.

Pengamat: Beli Saham pada Semester I dan Jual Sebelum Semester II

Kemudian, pertumbuhan investor domestik dalam dua tahun terakhir bisa mencapai 200 ribu, dari yang sebelumnya sebanyak 400 ribu investor, menjadi 600 ribu investor.  Hal ini, “membuat kinerja Bursa Efek Indonesia semakin baik.”

“Daya serap pasar domestik kita cukup baik. Mungkin ini merupakan dampak dari kegiatan pengampunan pajak (tax amnesty) yang dibuat oleh pemerintah waktu itu. Di mana dana-dana tax amnesty dimanfaatkan atau dimasukkan ke sektor pasar modal. Kondisi ini diharapkan mampu membuat pasar modal Indonesia lebih stabil terhadap perubahan-perubahan pasar dunia,” pungkasnya.

Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan investor domestik naik sebesar 200.000. Secara keseluruhan, saat ini terdapat 600.000 investor di pasar modal.