Wall Street melemah pada penutupan perdagangan, Kamis (17/1) waktu setempat atau Jumat pagi (18/1) waktu Jakarta. Reli bursa saham Amerika Serikat tersebut terhenti karena terpengaruh oleh pelemahan pada sektor industri serta sektor yang sensitif dengan suku bunga, kendati saham di sektor teknologi menguat.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 97,84 poin atau 0,37 persen menjadi 26.017,81. Untuk S&P 500 kehilangan 4,53 poin atau 0,16 persen menjadi 2.798,03. Sedangkan Nasdaq Composite turun 2,23 poin atau 0,03 persen menjadi 7.296,05.

Sektor utilitas dan properti masing-masing turun 0,6% dan 1,0% . Kedua sektor tersebut bergerak berlawanan dengan imbal hasil obligasi pemerintah berjangka waktu 10 tahun. Saat ini imbal hasil obligasi tengah mencapai level tertinggi dalam 10 bulan sehingga membuat kedua sektor tersebut tertekan.

Saham perusahaat pesawat terbang Boeing Co (BA.N) yang akhir-akhir ini sempat terbang tinggi, pada penutupan perdagangan Kamis (17/1) waktu setempat turun 3,1% mengkuti pergerakan saham General Electric Co (GE.N), yang juga tertekan 3,3 persen. Kedua saham tersebut membebani kinerja indeks Dow Jones, hingga akhirnya merosot selang mencapai level tertinggi 26.000 untuk pertama kalinya kemarin. Keduanya juga berkontribusi terhadap penurunan 0,6 persen di sektor industri.

Penguatan Wall Street Terhenti, Terpengaruh Pergerakan Saham Industri

 

“Kita akan terus melihat tarik ulur antara seberapa cepat ekonomi tumbuh dan seberapa cepat tingkat suku bunga naik,” kata Kate Warne, Ahli Strategi Investasi di Edward Jones di St. Louis.

“Kemungkinan hal itu akan menyebabkan volatilitas yang lebih tinggi pada tahun 2018 dibanding yang kita lihat pada tahun 2017,” tambahnya, seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat (19/1/2018).

Sementara itu, di saat yang sama, investor tetap mencermati laporan laba perusahaan, mengingat ada kenaikan pada valuasi saham.

“Ada banyak antusiasme tentang reformasi perpajakan yang akan dilakukan, apa yang akan terjadi dari repatriasi. Hari ini, hanya ada sedikit konsolidasi setelah kenaikan yang kuat,” kata Michael O’Rourke, pakar strategi pasar di Jones Trading di Greenwich, Connecticut.

Morgan Stanley (MS.N) membukukan kinerja pendapatan kuartalan lebih baik, dibanding perbankan besar AS lain, hingga mendorong kenaikan moderat pada kinerja sahamnya.

Sementara itu, saham Bank of New York Mellon Corp. turun 4,4% setelah bank kustodian mereka memperkirakan akan ada lebih banyak biaya pesangon di 2018. Ini sekaligus menjadi penurunan terbesar kedua terhadap indeks S&P.

Penguatan Wall Street Terhenti, Terpengaruh Pergerakan Saham Industri

 

Saham Alcoa Corp. merosot 7 % setelah laba produsen aluminium tersebut meleset dari prediksi para analis.Saham IBM dan American Express juga tercatat lebih rendah pada penutupan perdagangan Kamis menyusul laporan pendapatan kuartalan mereka.

Indikasi penghentian aktivitas pemerintah (goverment shutdown) AS juga meningkat, meski menurut ahli strategi investasi, Kate Warne hal itu akan berdampak lebih besar terhadap Wall Street jika sebuah kesepakatan tidak tercapai pada akhir Jum’at ini.

Parlemen AS, pada Kamis (17/1) melakukan voting akan memajukan tagihan sementara akan memperpanjang dana. Pemerintah saat ini beroperasi dengan cadangan dana sementara ketiga yang dilakukan sejak tahun fiksal 2018 dan dinulai per 1 Oktober.

Menurunnya sejumlah isu, meningkatkan menurunnya isu jumlah yang meningkat di NYSE dengan rasio 2,64-to-1; di Nasdaq, rasio 1.74-ke-1.

Volume perdagangan pada bursa AS tercatat sebesar 6,93 miliar saham, meningkat 9,5% dibandingkan rata-rata 6,3 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.