Jika menyangkut surat utang di kawasan Asia, sepertinya negara-negara yang berada di tengah pertikaian perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Cina, memiliki posisi dan kondisi yang lebih baik dibanding yang berada di pinggiran radius pusat pergolakan.

Nilai surat utang Cina dan Korea Selatan (Korsel), yang berada di episentrum pertikaian, menguat seiring dengan meningkatnya ancaman proteksionisme yang merontokkan bursa saham dan mendorong pelarian modal ke tempat yang lebih aman. Dalam kasus Cina, mendorong kebijakan moneter yang lebih lunak (dovish).

Sebaliknya, untuk negara di pinggiran pertikaian, seperti Indonesia, India, dan Filipina, makin tercerabut dari turbulensi. Namun, di sisi lain, menghadapi tekanan akibat kerentanan nilai tukar mata uang mereka yang terbebani masalah defisit neraca transaksi berjalan di masing-masing negara.

Proporsi kepemilikan asing juga menjadi faktor pembeda yang signifikan. Ketika ketegangan mulai memuncak menjelang tenggat penerapan tarif impor produk Cina oleh AS, Jumat (6/7) mendatang, Cina dan Korsel termasuk Thailand dan India, relatif mendapat manfaat dari relatif rendahnya peran investor asing di pasar modal. Sementara, Indonesia justru menghadapi risiko sebaliknya.

“Pasar dengan basis investor dalam negeri akan lebih terisolasi dari fluktuasi arus portofolio asing,” kata Ahli Strategi Senior Asia di Australia & Selandia Baru Banking Group Ltd., di Singapura, Jennifer Kusuma, seperti dikutip Bloomberg.

Prospek ekonomi Cina, Korsel, dan Thailand yang relatif landai, membantu mempertahankan nilai surat utang mereka, karena investor menghindari pengambilan risiko. “Sementara Indonesia, India, dan Filipina justru terpapar risiko,” imbuhnya.

Berikut ini proyeksi dampak perang dagang terhadap surat utang sejumlah negara Asia.

Cina

Utang pemerintah Cina mendapatkan manfaat dari sengketa dagang, karena kejatuhan harga saham dan pemotongan rasio cadangan bank telah meningkatkan likuiditas. Sepanjang bulan lalu, laju pembelian surat utang oleh investor asing mencapai tingkat tertinggi sejak September 2016. Imbal hasil surat utang bertenor 10 tahun mencapai angka terendah 14 bulan, sebesar 3,5 persen pada awal Juli lalu.

Catatan itu akan diperoleh jika Bank Sentral Cina (People’s Bank of China/PBoC) mempermudah kebijakan untuk menjaga pertumbuhan. Penurunan lebih lanjut dalam Yuan adalah risiko bagi investor asing, tetapi PBoC berjanji untuk menjaga kestabilan mata uang mereka.

“Memburuknya sengketa perdagangan AS-Cina akan menjadi berita baik bagi surat utang negara itu, karena akan menekan perekonomian dan memperlemah keinginan untuk mengambil risiko,” kata Analis SWS Research Co., di Shanghai, Meng Xiangjuan.

Akan tetapi, menurut Xianjuan, karena investor sudah berpandangan sangat pesimistis pada ketegangan perdagangan, ruang untuk terjadinya penurunan tajam imbal hasil menjadi terbatas. Ia menambahkan, imbal hasil obligasi 10 tahun Cina bisa turun ke level 3,4 persen pada paruh kedua tahun ini.

Korea Selatan

Surat utang pemerintah Korsel biasanya mendapatkan keuntungan pelarian modal tidak terkecuali ketika terjadi perang dagang, karena kualitas pasar keuangan mereka. Pada kuartal lalu, investor asing menyetorkan dana bersih US$ 5,8 miliar ke surat utang Korsel, terbanyak dalam lima tahun.

Hal itu membantu menekan imbal hasil surat utang tenor 10 tahun sebanyak enam basis poin menjadi 2,6 persen. Di luar dugaan, Korsel membukukan penurunan ekspor pada Juni, sinyal ketidakpastian yang mulai memengaruhi pengiriman barang ke Cina.

“Kosel akan langsung terpukul perang dagang dan jika terus meningkat akan sulit bagi Bank of Korea untuk menaikkan suku bunga,” kata Ahli Strategi Pendapatan Tetap di Daishin Securities Co. di Seoul, Kong Dongrak.

Meskipun Daishin meramalkan satu kenaikan suku bunga acuan di paruh kedua ini, tapi terbuka untuk kemungkinan nol kenaikan pada tahun ini. Dongrak merekomendasikan investor tetap membeli surat utang Korsel, tetapi mencatat bahwa nilai tukar Won yang jatuh 4,4 persen terhadap US$ pada kuartal terakhir tetap berisiko.

India

Kebijakan India untuk tidak membiarkan dana asing masuk terlalu banyak ke pasar surat utang negara dengan hanya membolehkan asing untuk memiliki surat utang sekitar 5 persen, bertindak sebagai penyangga di masa penuh tekanan ini. Meskipun surat utang India tidak kebal terhadap pemburukan sentimen yang menekan Rupee.

Di mana, terjadi arus keluar dana dari surat utang sebesar US$ 6,4 miliar pada kuartal lalu. Harga minyak dinilai masih akan tetap menjadi penggerak terbesar pasar.

CTA Banner

Perang dagang, kata Direktur Asosiasi Trust Capital Services India Pvt. di Mumbai, Sandeep Bagla, dapat mengakibatkan inefisiensi ekonomi yang mengarah ke percepatan inflasi. Tetapi akan baik bagi pertumbuhan dan juga baik bagi surat utang. Ia memperkirakan imbal hasil surat utang tenor 10 tahun akan turun menjadi 7,3 persen pada akhir tahun nanti dari 7,9 persen pada Rabu lalu.

Indonesia

Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak pertengahan Mei lalu untuk mempertahankan rupiah. Banyak analis memperkirakan akan ada kenaikan lebih lanjut suku bunga acuan oleh BI.

Dengan kondisi hampir 40 persen obligasi dimiliki oleh pengelola dana global atau asing, surat utang Indonesia menjadi paling menderita di Asia ketika dana asing keluar dari pasar negara berkembang. Kenaikan imbal hasil surat utang 10 tahun yang mencapai level tertinggi dalam 18 bulan, sebesar 7,9 persen pada pekan lalu sejatinya membuat surat utang Indonesia menjadi menarik.

”Tetapi isu perang dagang dan penguatan US$ membuat kondisi global menjadi sangat tidak pemaaf,” kata Ahli Strategi Fixed Income di DBS Bank Ltd., Singapura, Eugene Leow. Leow mengatakan, pergerakan imbal hasil pada paruh kedua tahun kemungkinan akan bergerak mendatar.