Pertumbuhan Global Naik Akibat Pemotongan Pajak AS

Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,9% untuk tahun 2018 dan 2019. Prediksi naik sebesar 0,2% dari Oktober.

Perubahan prediksi turut didorong dampak kebijakan pemotongan pajak Amerika Serikat (AS) yang akan mendorong investasi skala nasional serta meningkatkan perdagangan dengan mitra utama. Di lain sisi, perekonomian dunia akan mulai melemah pada tahun 2022, seiring berakhirnya kebijakan.

Maurice Obstfeld, Kepala Ekonom IMF menilai dampak kebijakan pemotongan pajak termasuk pelebaran defisit neraca berjalan (current account) AS, penguatan nilai tukar dolar AS serta pergeseran arus investasi internasional.

“Pemimpin politik dan pembuat kebijakan harus tetap menyadari momentum ekonomi saat ini mencerminkan pertemuan faktor-faktor yang tidak mungkin berlangsung lama,” ungkap Obstfeld kepada wartawan di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Senin (22/1) waktu setempat.

Dalam agenda tahunan yang sama, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyatakan pemulihan yang lebih cepat ini menjadi momentum yang sempurna bagi pemimpin dunia untuk memperbaiki perekonomian. “Pertumbuhan ekonomi perlu lebih inklusif,” jelasnya.

Pertumbuhan Ekonomi Global
Tahun 2013 2014 2015 2016 2017 * 2018* 2019*
PDB 3,5 3,6 3,4 3,2 3,7 3,9 3,9
sumber IMF
* proyeksi IMF

IMF dalam World Economic Outlook yang dirilis Senin waktu setempat mengatakan pertumbuhan AS tertinggi dibandingkan negara maju lainnya. IMF memperkirakan setengah dari peningkatan pertumbuhan global disebabkan rancangan pemotongan pajak yang disahkan pada Desember dan diundang-undangkan pada tahun ini.

Pertumbuhan Global Naik Akibat Pemotongan Pajak AS

Momentum yang Lebih Kuat

Kebijakan akan mengurangi pembayaran pajak perusahaan di AS dan akan meningkatkan pertumbuhan AS menjadi 2,7% sepanjang 2018. Prediksi pertumbuhan ini lebih tinggi 0,4% dibanding perkiraan terakhir pada Oktober 2017. Pertumbuhan AS diproyeksikan melambat menjadi 2,5 persen pada 2019.

Kondisi ini tidak menguntungkan bagi Presiden AS Donald Trump. Sebab, perbaikan ekonomi akan mendorong peningkatan permintaan yang kemungkinan besar akan banyak ditopang produk impor. Impor yang membengkak akan memperlebar defisit neraca berjalan (current account). Ditambah lagi, neraca perdagangan AS dan Cina saat ini mengalami defisit sebesar US$ 505 miliar.

IMF memperkirakan kebijakan pajak akan memangkas pertumbuhan ekonomi AS setelah 2022, lantaran pemotongan pajak individu telah berakhir dan AS berupaya mengurangi defisit anggaran.

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perombakan pajak sebesar $ 1,5 triliun per Desember. Perombakan adalah yang terbesar sejak 1980-an, saat pajak korporat turun dari 35% menjadi 21% dan mengurangi beban pajak untuk sebagian besar individu juga.

Fed Menaikkan Suku Bunga

IMF juga memperingatkan dampak peningkatan pertumbuhan ekonomi akan mengoreksi pasar keuangan, sekenario yang mungkin timbul di tengah valuasi aset kekayaan dan premi berjangka yang sangat komprehensif. Peningkatan inflasi akan mendorong Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan (fed rate) lebih cepat dari perkiraan. Jika terjadi, keuangan global akan mengetat yang ditandai dengan beban utang membengkak.

“Perkembangan saat ini tidak mungkin sesuatu yang”baru normal,” ungkap Maurice Obstfeld, kepala ekonom IMF kepada wartawan pada Senin (22/1) seperti dikutip dalam laman Bloomberg.

Obstfeld menila beberapa alasan yang meragukan daya tahan pemulihan, termasuk negara-negara perekonomian maju yang mendekati batas potensi pertumbuhan mereka dan kemungkinan bahwa ekspansi di dua ekonomi terbesar di dunia, AS dan Cina, akan melambat.

“Resesi berikutnya mungkin lebih dekat dari perkiraan kita, dan amunisi untuk melawannya jauh lebih terbatas daripada satu dekade yang lalu,” katanya.

 

Gambaran yang Cerah

Prospek IMF yang cerah akan menjadi penyebab kelegaan saat elite finansial dan politik dunia berkumpul di Davos, Swiss, pada pekan ini untuk mengikuti pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia. Trump dijadwalkan untuk berbicara pada 26 Januari untuk menyampaikan pesan “America First” yang mendorong agenda ekonominya. Namun, penghentian sementara operasional pemerintah di Washington bisa mengganggu rencana presiden untuk hadir ke Davos.

Beberapa diskusi di Davos akan difokuskan untuk melindungi dari rasa puas diri.

“Dengan ekonomi dunia sekarang menjadi yang paling terintegrasi dalam sejarahnya, tidak mengherankan jika orang mulai khawatir tentang pendulum yang berayun ke arah lain,” kata Philipp Hildebrand, wakil ketua di perusahaan investasi BlackRock Inc.

Selain itu, beberapa hal juga ditandai IMF sebagai risiko global yaitu overheating pasar keuangan, protektisme perdagangan, ketegangan geopolitik dan cuaca ekstrem.

“Tahun ini bisa jadi satu untuk orang optimistis dan pesimistis. Suasana hati ini cukup bagus dari sudut pandang bisnis karena pertumbuhan sinkron,” kata Dominic Barton, managing partner global di perusahaan konsultan McKinsey & Co.

IMF mengatakan pemulihan global merupakan yang terluas dalam tujuh tahun, dengan pertumbuhan yang meningkat tahun lalu di 120 negara menyumbang tiga perempat output dunia. IMF juga menaikan proyeksi zona euro menjadi 2,2 persen pada 2018, naik 0,3 poin dari Oktober. Jepang akan tumbuh 1,2 persen pada 2018, naik 0,5 poin, demikian prediksi IMF.

Pertumbuhan ekonomi Cina diprediksi naik sebesar 0,1% dari perkiraan Oktober menjadi 6,6 persen tahun ini.