Kali terakhir pengeksplorasi minyak Amerika Serikat mampu mengebor 10 juta barel per hari terjadi pada masa kepemimpinan Richard Nixon. Di luar Gedung Putih, orang-orang berani membeli mobil keluaran terbaru Toyota Motor Corporation. Di kawasan pertambangan, teknik pengambilan minyak dari sumur-sumur tua (fracking) mulai dikembangkan. Saat itu 1970, dan minyak dilepas seharga US$ 1,80 per barel.

Nyaris lima dasawarsa kemudian, bersamaan harga minyak yang melambung hingga mendekati US$ 65 per barel, kuota minyak mentah AS hampir menyentuh titik delapan digit. Kondisi ini dianggap penyangga yang signifikan demi meraih mimpi yang sulit sekali tercapai: Pada akhir tahun, AS barangkali menjadi produsen terbesar minyak sedunia. Sejalan impian itu, AS kemudian mengumandangkan gagasan akan kebebasan energi.

Sensor-sensor bisnis Presiden AS Donald Trump pun enggan bergeming. Ia menerjemahkan kejayaan masa lalu minyak AS sebagai dominasi energi. Karenanya, pemerintahan sang presiden berencana membuka lahan laut yang luas guna mengeksplorasi minyak lepas pantai. Demi mewujudkan mimpinya, tak menutup kemungkinan Trump bakal mengizinkan pengeboran di Suaka Margasatwa Nasional Kutub Utara; pertama kalinya dalam sejarah AS.

Perlu bertahun-tahun hingga upaya terakhir betul-betul diwujudkan. Namun, eksplorasi menahun itu agaknya sebanding. Terlebih mengingat prediksi kandungan minyak Suaka Margasatwa Nasional Kutub Utara yang sekitar 11,8 miliar barel. Belasan miliar itu dapat dipulihkan melalui metode-metode tertentu, yang kini semakin canggih.

Secara sekelebat, rencana Trump terdengar brilian. Namun, Trump agaknya perlu juga memperhitungkan pengingat banyak orang: “Hati-hati dengan apa yang kamu inginkan.”

Tiga tahun terkahir Bumi dalam masa terpanas, sejak pencatatan suhu dilakukan pada abad ke-19. Hanya tersisa sedikit ruang bagi rencana Trump guna menghasilkan sumber energi yang memperlakukan planet ini dengan baik. Gubernur di negara-negara bagian pesisir mulai belajar dari kasus tumpahan minyak di luar AS, yang akhirnya mengusik pariwisata serta industri lain senilai triliunan dolar.

Florida, negara bagian paling selatan di AS, menolak rencana pengeboran lepas pantai dalam wilayahnya. Jika pasokan minyak bertambah, investasi energi terbarukan–seperti matahari dan angin–berpeluang mengecil. Saat harga minyak naik, modal yang dibutuhkan dalam pengembangan energi terbarukan semakin melonjak. Artinya, kian sedikit pengusaha yang berniat mengembangkan sumber energi di masa depan itu.

Untuk saat ini, barangkali kita dapat berterima kasih pada ketahanan industri minyak yang bersumber dari batuan serpih (shale) AS.

Kekuatan shale agaknya belum terpikirkan pada lima atau enam tahun silam. Pada akhir 2014, Arab Saudi menargetkan pesaingnya, termasuk para pengebor AS. Alih-alih memangkas produksi demi menjaga harga tetap tinggi, Arab Saudi membujuk Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi atau OPEC “membuka keran,” sehingga harga lebih rendah dari US$ 40 per barel pada Desember 2014. Harga pada akhir tahun itu turun lebih dari US$ 100 dibanding empat bulan sebelumnya.

Penurunan berdampak pada produksi minyak AS. Sebelumnya AS mampu memproduksi 9,6 juta barel per hari. Produksi akhirnya merosot menjadi 8,5 juta barel per hari. Kebangkrutan mematahkan bisnis di jalur shale, mulai Cekungan Permian, Texas hingga Formasi Bakken di North Dakota. Puluhan ribu pekerja tambang mesti kehilangan pekerjaan.

Bersyukur, mereka tak lantas berpatah arang. Penyintas di jalur shale AS mentransformasi diri menjadi pengusaha dan karyawan yang justru kian kuat. Bagi mereka, bisnis shale tak lagi mengenai keberuntungan dan buah-buah manis. Kunci utamanya adalah pemanfaatan teknologi.

Para ahli geologi mulai menggunakan ponsel pintar untuk menavigasi sumber eksplorasi. Pengusaha tambang beranjak ke sumur-sumur yang lebih panjang. Teknologi fracking juga menguat, yang kini diistilahkan sebagai Shale 2.0. Kebangkitan teknologi di jalur shale AS akhirnya tak hanya mengukir senyum manis Trump, melainkan juga raksasa-raksasa pengebor minyak. Termasuk Exxon Mobil Corp. serta Chevron Corp.

Namun, ada masalah lain. Ternyata Shale 2.0 turut mengusik penyuling. Selama bertahun-tahun, perusahaan penyuling shale menghabiskan miliaran dolar guna memenuhi ketersediaan peralatan khusus dalam pengolahannya. Pada saat yang sama, kualitas minyak serpih sangat bagus, sehingga hanya menghasilkan sedikit diesel, bahan bakar yang menggerakkan industri manufaktur.

Dalam industri minyak, AS belum sepenuhnya menemukan obat mujarab. Baik bagi rantai industri, perubahan iklim maupun perpolitikannya.