Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira Adhinegara menilai, pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 menjadi 5,1 persen telah menciptakan sentimen negatif di pasar. Salah satunya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau US$.

“Pelemahan kurs rupiah salah satunya disebabkan oleh statemen BI yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,1 persen. Sentimen langsung berubah pesimistis,” kata Bhima.

Menurut dia, biasanya pejabat bank sentral justru menjaga ekspektasi pasar. Namun, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin pada 18-19 Juli 2018, pihak bank sentral dinilai mengeluarkan pernyataan yang tidak diterima baik oleh pasar.

Alhasil, pelaku pasar merespons negatif statemen BI yang dinilai pesimistis terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Menurutnya, saat ini rupiah telah menembus level Rp 14.520 per US$.

Bahkan, lanjut dia, stance kebijakan BI juga tidak akan lagi menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR). BI menegaskan, sampai akhir tahun ini suku bunga acuan akan tetap berada di level 5,25 persen. “Ini membuat investor cenderung menahan diri,” tegasnya.

Bhima memperkirakan, saat ini BI sedang wait and see fenomena super US$ memuncak. Hal ini selanjutnya akan direspons dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. “Dari faktor global, prediksi perang dagang akan semakin memburuk,” imbuhnya.

Lebih lanjut Bhima memprediksi US$ akan menguat ke titik tertinggi sejak krisis 2008. Penguatan US$ itu akan terjadi pada September atau Oktober tahun ini. “Saat itulah tekanan pada kurs rupiah akan membesar,” tutur Bhima.

Aktifkan Instrumen SBI

BI sendiri tengah menyiapkan kebijakan lain selain menahan tingkat suku bunga acuan untuk memperkuat nilai tukar rupiah sekaligus menarik kembali dana asing masuk ke dalam negeri. Rencananya, BI akan mengaktifkan kembali instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Sebelumnya BI sudah berkomitmen menghapus SBI dan menggantikannya dengan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen moneter. Namun BI beralasan bahwa dengan pengaktifan kembali SBI, pasar obligasi negara diharapkan akan lebih dalam dan bisa membantu pembiayaan pembangunan.

Deputi Gubernur BI, Mirza Adityaswara, mengatakan terjadi pembalikan modal (capital reversal) di pasar negara berkembang (emerging market) yang membuat kurs negara-negara berkembang melemah, termasuk indonesia. Maka dari itu, jelas dia, penting untuk mengundang portofolio investor dan penting agar pasar keuangan tetap dibuat atraktif.

“Dalam rangka itu kemudian BI sekarang sedang melihat kembali reaktifasi SBI, terkait bagaimana attract aliran modal dari luar,” ungkap Mirza.

CTA Banner

Tujuan dari pengaktifan kembali SBI, jelas Mirza, adalah untuk mengundang investasi asing di portofolio atau hot money. Menurutnya, dengan aliran modal dari uang panas ini, diharapkan rupiah menguat karena masuknya devisa ke perekonomian nasional.

BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI di level 5,25 persen. Keputusan tersebut dianggap konsisten dengan upaya BI mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Hal itu diharapkan dapat menjaga stabilitas, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah.