OPEC dan Rusia memastikan akan tetap bertahan dengan kebijakan pengurangan produksi minyak hingga akhir tahun ini. Upaya dilakukan untuk mengurangi kelebihan stok global.

Dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengaku negaranya siap untuk terus bekerja sama dengan OPEC dan pemimpin de facto Arab Saudi, bahkan setelah kebijakan pemotongannya selesai.

“Dua negara penghasil dan pengekspor minyak terbesar di dunia dapat melanjutkan kerja sama untuk kebaikan industri minyak mentah, dan demi stabilitas yang baik,” kata Novak di Muscat, Oman seperti di kutip dari Bloomberg pada Minggu (21/1) waktu setempat.

Lebih lanjut Novak mengatakan hingga kini pasar minyak masih belum sepenuhnya seimbang, meski menteri dari negara-negara OPEC dan produsen sekutunya sepakat pada hari minggu di Muskat bahwa kebijakan pemotongan produksi bekerja.

Sementara itu, Khalid Al- Falih Menteri Energi Arab Saudi mengatakan produsen harus tetap membatasi produksi hingga 2018, karena diperkirakan pasar akan kembali seimbang di akhir 2018 atau pada tahun 2019. Meski Falih tidak mengatakan apakah pemotongan akan berlanjut pada 2019.

Soft Demand

Menteri Energi dari beberapa negara OPEC melakukan pertemuan dengan Rusia dan Oman untuk melihat kepatuhan terhadap kesepakatan pemotongan produksi minyak yang akan berakhir pada Desember. Arab Saudi dan Rusia memimpin upaya pemangkasan produksi untuk mengurangi stok dan menopang harga. Sementara itu, pada akhir pekan lalu Badan Energi Internasional mengatakan pada bulan ini minyak mentah jenis Brent telah menguat 2,6 persen, dan  produksi minyak Amerika Serikat menguat karena harga rally.

Al Falih memprediksi permintaan minyak dunia pada semester awal akan rendah sehingga membuat para menteri anggota OPEC mempertimbangkan pemotongan hingga setahun penuh. Mereka sepakat untuk tetap bekerja sama setelah akhir tahun ini, tanpa memutuskan mekanisme kerja sama yang ada.

 

“Ketika kita mendekati penyeimbangan kembali pada akhir 2018, kita perlu memperluas kerangka kerja namun belum tentu di tingkat produksi. Pada awal 2017, persediaan minyak telah turun sebesar 220 juta barel dari level 340 juta barel,” kata Al-Falih.

Dalam wawancara tersebut Novak mengatakan Rusia setuju untuk melanjutkan kerja sama dengan OPEC, bahkan tanpa memotong produksi, jika itu membantu mendukung pasar. Sebelumnya, Novak kepada wartawan mengatakan perlu melihat bagaimana perkembangan pasar sebelum memutuskan apakah ada kebutuhan untuk menyesuaikan kenaikan produksi.

Sementara baik Novak maupun Al-Falih adalah penentu terakhir kebijakan minyak di negaranya masing-masing, kemitraan mereka telah mewujudkan periode kerjasama Saudi-Rusia yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kembali membentuk pasar minyak dan geopolitik energi global. Kesepakatan pemotongan global, ditambah dengan permintaan yang kuat, telah membantu mengangkat minyak mentah ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir mendekati US$ 70 per barel.

“Kami tidak merasa bahwa OPEC sendiri bisa melakukannya, itu sebabnya kami memiliki cukup banyak negara non-OPEC termasuk Rusia untuk bergabung pada akhir 2016, ketika produsen global pertama kali memutuskan pemotongan tersebut ” kata Al-Falih dalam wawancara tersebut.

Al Falih mengatakan dalam pertemuan di Muscat, para menteri melakukan telekonferens dengan  Irak dan Kazakhstan  yang belum sepenuhnya mematuhi kebijakan pemotongan tersebut. Dalam terlekonfrens  tersebut kedua negara tersebut mengatakan mereka menghadapi tantangan tersendiri untuk mematuhi kebijakan ini namun mereka sepakat untuk memperbaiki kepatuhannya. Al Falih menambahkan hingga kini kepatuhan Irak telah menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Tingkat kepatuhan di antara semua peserta dalam pemotongan yang dilakukan pada tahun 2018 akan mengalahkan rata-rata 107 persen pada tahun 2017”, kata Al-Falih.

Sementara itu, Mohammed Al Rumhy Menteri Perminyakan Oman mengaku OPEC dan sekutu-sekutunya melihat manfaat dalam mempertahankan batas produksi mereka sampai 2019. Dan Suhail Al-Mazrouei Menteri Energi Uni Emirat Arab dalam sebuah pidato mengatakan bahwa persediaan global saat ini 118 juta barel di atas rata-rata historis lima tahun terakhir. Tren positif kepatuhan OPEC selama lima bulan terakhir akan membantu menyeimbangkan pasar dengan cepat.