Karena berbeda value dengan generasi sebelumnya, milenial sering dicap boros dan tak punya tabungan. Benarkah demikian?

Suatu hari terlihat Dewi (26 tahun) seorang karyawan di bilangan Mega Kuningan, asyik membuka sebuah aplikasi travel. Dia asyik mencari tiket murah untuk liburan pertengahan tahun ini. “Wah kemarin itu gue liat fotonya Dinda keren banget dia ke Tokyo ke Disneyland. Gue mau cari tiket ke sana. Pokoknya  mau ke sana biar punya foto-foto kaya dia,” kata Dewi sambil ngobrol bersama Angggi di sudut kafe.

Melihat antuasias Dewi untuk jalan-jalan memang menjadi satu hal wajar ditemui saat ini. Adanya sosial media seperti Facebook dan Instagram, membuat banyak orang dengan mudah share beragam aktivitas mereka. Mulai dari kuliner, jalan-jalan, shopping, konser musik, dan lainnya.

Di satu sisi ini memang mengasyikkan melihat beragam aktivitas netizen di berbagai penjuru dunia. Namun, sisi lain cerita dan sharing berbagai tempat terbaru tidak jarang membuat banyak orang jealous dan ingin segera melakukan hal sama. Entah itu berbelanja trend fashion terbaru, adventure ekstrem, dan lainnya.

Tak heran saat ini traveling dan petualangan menjadi begitu demam pada kaum milenial. Tak jarang mereka rela susah payah hanya untuk meraih mimpi jalan-jalan ke suatu tempat. Mereka rela tidak punya tabungan demi petualangan eksotis ke berbagai tempat.

Beda Value, Generasi Milenial Sering Dianggap Boros wormtraders

Mengenal Generasi Milenial

Menyebut generasi milenial merujuk pada kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Sebetulnya tidak ada batasan waktu kapan dan akhir kelompok ini. Dahulu para ahli dan peneliti menyebut milenial adalah orang yang lahir pada awal 1980-an hingga tahun 1990-an hingga 2000-an sebagai masa akhir lahirnya kelompok ini. Bisa dikatakan generasi milenial adalah yang berada di rentang usia 17 hingga 37 saat ini.

Kebanyakan milenial ini adalah anak-anak dari generasi baby boomers. Istilah baby boomers adalah kelompok orang yang lahir pada tahun 1960 hingga 1970-an.

Generasi milenial dianggap unik dari generasi sebelumnya atau Generasi Y. Generasi milenial dianggap spesial, mereka sudah bersentuhan dengan teknologi seperti handphone dan internet. Kehadiran era digital membuat beragam hal berubah, termasuk perilaku generasi milenial.

Generasi Milenial Lebih Suka Petualangan

Saat ini Indonesia dari populasi 255 juta penduduk terdapat generasi milenial sebanyak 81 juta. Sayangnya, saat ini generasi melineal terkait soal keuangan mereka kerap dicap sebagai generasi yang boros.

Sebuah lembaga riset indepeden, Provetic mengadakan survei berbasis media sosial yang digelar beberapa waktu lalu. Survei ini berfokus pada perilaku generasi milenial dan karakter mereka dalam soal keuangan. Faktanya  tujuan generasi milenial menabung tidak untuk membeli hal-hal pokok seperti rumah, tabungan, dan lainnya.

Dari survei ini menemukan sekitar 41% dari 7.809  alasan milenial menabung kebanyakan untuk membeli tiket konser musisi idola dan jalan-jalan. Paling tidak fakta memberikan gambaran generasi milenial lebih fokus pada kepentingan yang terkait dengan eksistensi dirinya. Tak heran mereka belum mempunyai perencanaan keuangan matang untuk masa depan.

Paling tidak kebiasaan para milenial yang tidak dapat menabung juga tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK menyatakan sejak 2013 rasio Marginal Propensity to Save (MPS) berada di bawah Marginal Propensity to Consume (MPC).  Dapat dikatakan sejak beberapa tahun lalu, memang terlihat banyak milenial yang lebih banyak menghabiskan pendapatannya untuk kegiatan belanja dibanding menabung.

Hal sama terlihat dari data penggunaan kartu kredit Bank of America Merrill Lynch dikutip Weforum.org menunjukkan restoran merupakan pengeluaran terbesar bagi uang milik milenial di Amerika Serikat. Mereka menghabiskan sebesar 23,8 persen pengeluaran milenial adalah untuk makan di restoran.

Survei lain yang dilakukan Huffington Post tentang milenial Asia telah mendukung laporan Bank of America Merrill Lynch. Mereka menemukan milenial di Asia juga memang lebih senang makan di restoran. Jumlah pengeluaran milenial untuk makan di restorna jumlahnya 10 persen lebih banyak kalau dibandingkan dengan generasi baby boomers. Alasan milenial lebih banyak makan restoran di luar karena alasan kesehatan dan makanan lebih berkualitas. Alasan lain karena restoran merupakan cara mereka mendapatkan makanan yang fotogenik dan mereka dapat upload di Instagram.

Selain makan di luar, yang membuat mereka banyak mengeluarkan uang adalah bensin. Data dari pemakaian kartu kredit Bank of America Merill Lynch, milenial menghabiskan 10,8 persen dari penghasilannya untuk beli bensin. Jumlah ini lebih besar 6,7 persen dibanding generasi lainnya. Untuk penampilan dan hobi mereka membelanjakan 18,5 persen. Satu lagi yang menjadi pengeluaran milenial sebesar 17,7 persen untuk barang-barang elektronika.

 Beda Value, Generasi Milenial Sering Dianggap Boros wormtraders

Generasi Milenial Boros?

Melihat hal demikian Wormtraders berkesempatan mewawancarai Safir Senduk, seorang Perencana Keuangan Independen dan pendiri  Safir Senduk & Rekan ([email protected]).  Berikut petikan wawancaranya :

Wormtraders: Bagaimana pendapat Anda tentang keuangan generasi milineal? Apakah mereka memang boros dan tidak dapat mengatur uang.

Safir Senduk: Sebetulnya label boros saya rasa kurang tepat menjadi label bagi kaum milenial. Boros tidaknya seseorang tergantung orangnya masing-masing.

Wormtraders: Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada masalah keuangan generasi mileneal?

Safir Senduk: Yang saya lihat adanya perubahan nilai atau value dengan generasi sebelumnya. Generasi 1960-1990 saya lihat memiliki nilai yaitu security atau rasa aman dalam hidupnya. Hal ini ditandai dengan rasa aman memiliki rumah secara fisik, pekerjaan tetap hingga pensiun, tabungan untuk menjamin masa tuanya, tabungan pendidikan anak, dan lain sebagainya.

Wormtaders: Jadi Generasi Y mempunyai value untuk hidup aman dibanding milenial?

Safir Senduk: Iya, generasi 1960-1980 an mempunyai value untuk hidup aman (secure) dibanding milenial. Generasi sebelumnya dibilang sukses atau menjadi orang  kalau mereka memiliki rumah, mobil, pekerjaan tetap. Mereka akan dibilang mapan dengan hal itu. Kalau tidak memiliki hal-hal itu dianggap gagal atau orang tidak sukses. Mereka masih suka dengan barang-barang konsumtif brand-brand tertentu. Boleh saja beli barang-barang mewah tetapi untuk kualitas yang bagus, tapi jangan terlalu banyak.

Wormtraders : Nah, value seperti apa yang dimiliki generasi milenial?

Safir Senduk : Saya melihat ada pergeseran nilai antara baby boomers dan milenial. Pada generasi milineal value mereka ada pada experience dan lifestyle. Saya melihat kehidupan milenial dengan imbas dari maraknya sosial media membuat banyak sharing foto dan experience beragam hal. Mulai dari makanan berbagai restoran terkenal, fashion yang unik, petualangan traveling ke berbagai tempat baru di seluruh pelosok Indonesia atau dunia, pertunjukan musik, dan hal lainnya.

Womrtraders: Apakah hal ini membuat mereka berbeda dengan generasi sebelumnya?

Safir Senduk: Iya beda sekali. Karena kalau sebelumnya orang mapan atau sukses itu ditandai dengan keamanan dalam hidup kini berubah. Kaum milenial itu justru ingin hidup yang lebih memiliki banyak pengalaman. Membuat mereka berbeda gaya hidup dari generasi sebelumnya. Mereka lebih senang jalan-jalan ke Jepang dibanding harus menabung.

Wormtraders: Dalam hal apa saja generasi milineal berubah?

Safir Senduk: Berubah dalam banyak hal. Mereka sekarang lebih menyukai eksperience, membuat mereka lebih senang traveling, kuliner, fashion, dan lainnya. Hal ini membuat mereka sekarang bergeser dalam keinginan harus punya rumah. Mereka berpikir sekarang ini mereka bisa kontrak atau sewa apartemen itu gak masalah. Mereka tidak terikat pada simbol sukses generasi sebelumnya. Saat bekerja mereka bisa dengan cepat pindah kalau dirasakan perusahaannya kurang cocok dengan mereka. Mereka tidak khawatir pindah-pindah kerja.

Wormtraders: Apakah hal-hal seperti ini yang membuat milenial jadi lebih boros?

Safir Senduk: Iya betul. Karena untuk traveling, makan di restoran, shopping, konser musik,  dan lainnya membutuhkan banyak pengeluaran. Untuk traveling saja sudah mahal, belum lagi hang out bersama teman-teman di restoran pulang kerja atau weekend biasanya menghabiskan lebih banyak uang. Saat ini di Indonesia sedang demam kopi, permintaan kopi meningkat dengan banyaknya kafe. Ya, karena milenial  ini sekarang lebih suka ngopi cari tempat yang instagramable.

Saat ini para milenial kalau weekend sudah sibuk, ‘wah mau kemana ya?’ Mereka merasa harus pergi dan menjadi satu kebutuhan. Mereka melihat teman-teman mereka asyik hangout dan posting di sosial media. Mereka juga ingin melakukan hal yang sama.

Wormtraders: Saat ini terkait dengan dunia digital, apa yang bisa dilakukan para milenial untuk menambah penghasilan?

Safir Senduk: Dunia digital dengan internet dapat dimanfaatkan maksimal untuk menambah penghasilan atau berbisnis. Banyak kesempatan untuk menambah penghasilan. Jangan gunakan internet untuk hiburan atau santai saja, tapi manfaatkan untuk hal produktif.

Juga perhatikan di dunia maya perlu jeli melihat informasi yang tepat dan benar. Kalau dahulu orang ingin baca buku ke toko buku yang sudah tersaring dan dapat dipercaya pengarang dan sebagainya. Milenial harus jeli menanyakan sumber yang jelas, bertanya pada ahli,  atau  bergabung dengan komunitas yang dapat dipercaya.

Wormtraders: Menurut Anda apa yang harus dilakukan generasi milineal dalam keuangan mereka?

Safir Senduk: Menurut saya siapapun harus dapat mengatur keuangannya, termasuk milenial. Hal ini penting agar hidup mereka juga tetap mempunyai rencana keuangan yang matang. Boleh saja milenial jalan-jalan, shopping, dn sebagainya, asal jangan lupa untuk punya spare tabungan atau investasi. Semuanya gaya hidup dan mencari pengalaman itu bisa tetap dilakukan, tapi jangan  berlebihan. Tetap perlu bijaksana mengatur keuangan agar masa tua tidak mengalami kesulitan. Perlu juga menambah pengetahuan soal keuangan, agar hidup lebih mapan. (Foto: Dok Safir Senduk, Wormtraders)