Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan optimisme konsumen yang menguat pada April 2018 dibanding periode sebelumnya. Hal itu tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2018 yang meningkat 0,6 poin dari bulan sebelumnya menjadi 122,2, lebih tinggi dari 121,6 pada Maret 2018.

Peningkatan optimisme konsumen didorong pemulihan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang. Selain itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini cenderung terjaga.

Hal ini terlihat dari kenaikan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) sebesar 1,3 poin dari bulan sebelumnya. Kenaikan IEK terutama ditopang peningkatan ekspektasi kegiatan dunia usaha selama enam bulan mendatang.

“Responden memperkirakan intensitas pembangunan nasional yang semakin meningkat pada semester II 2018 disertai terkendalinya kenaikan harga barang dan jasa akan berdampak positif dalam mendorong pertumbuhan usaha ke depan,” ungkap laporan tersebut.

Kenaikan IKK pada April 2018 terjadi pada responden dengan kelompok pengeluaran di atas Rp 3 juta per bulan, serta responden dengan usia 31 – 50 tahun dan di atas 60 tahun. Secara spasial, peningkatan IKK April 2018 terjadi di sembilan kota pelaksana survei, dengan kenaikan IKK tertinggi di Pontianak (9,3 poin) dan Semarang (8,1 poin).

Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat stabil, yang didukung perbaikan penghasilan konsumen saat ini, juga penguatan pembelian barang-barang tahan lama.

Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini berada pada level optimis (indeks > 100) dan relatif sama dengan bulan sebelumnya. IKE pada April 2018 sebesar 110,2 sama dengan Maret 2018.

Kestabilan IKE ditopang kenaikan Indeks Penghasilan saat ini sebesar 0,5 poin menjadi 121,2 dan stabilnya Indeks Pembelian durable goods pada level 113,9. Kenaikan Indeks Penghasilan Konsumen terjadi pada responden dengan pengeluaran Rp 2,1 – 4 juta per bulan.

Indeks Pembelian durable goods seperti elektronik, kendaraan,dan perabot rumah tangga meningkat pada responden dengan pengeluaran di atas Rp 4 juta per bulan dan berusia di atas 40 tahun.

Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja sendiri menurun dari 96,1 menjadi 95,5 pada April. Penurunan terjadi pada kelompok tingkat pendidikan sarjana. Sedangkan, dari sisi usia persepsi terhadap ketersediaan tenaga kerja menurun pada responden dengan kelompok usia 21-30 tahun dan 51-60 tahun.

Tekanan Harga Menurun

Hasil survei juga mengindikasikan pelemahan tekanan harga selama tiga bulan mendatang (Juli 2018). Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) tiga bulan mendatang sebesar 183,6, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 184,4.

Ekspektasi penurunan tekanan harga tersebut terutama dipengaruhi oleh permintaan barang dan jasa pasca-Idul Fitri yang kembali normal. Secara spasial, penurunan indeks ekspektasi harga ini terjadi di enam kota dengan penurunan tertinggi di Samarinda (29 poin) dan Medan (17,8 poin).

Hanya saja, tekanan kenaikan harga diperkirakan terjadi pada enam bulan mendatang (Oktober 2018). Tekanan  didorong kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga BBM dan tarif listrik pada paruh kedua 2018 yang terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 6 bulan mendatang yang meningkat 1,6 poin menjadi 166,8.

Namun dari sisi konsumsi, konsumen memperkirakan pengeluaran konsumsi pada tiga bulan mendatang meningkat dari bulan sebelumnya.

Kenaikan seiring peningkatan kebutuhan makanan, sandang, dan pendidikan yang bertepatan dengan tahun ajaran baru. Penguatan kebutuhan itu terindikasi dari kenaikan Indeks Perkiraan konsumsi rumah tangga 3 bulan mendatang sebesar 1,7 poin menjadi 166,1.