Tahun Anjing Tanah Bikin Platinum Sumringah

Tekanan dari rencana kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), US Fed Fund Rate–yang semula ingin dilakukan secara agresif oleh Bank Sentral AS atau The Federal Reserves (The Fed)–perlahan mereda.

Komentar anggota Dewan Gubernur The Fed dari St. Louis, James Bullard, pada Kamis (22/2) waktu setempat tampaknya mampu menenangkan pasar yang khawatir terhadap hasil rapat The Fed bulan lalu.

Melansir CNBC, Bullard mengatakan bahwa bank sentral perlu lebih hati-hati dan tidak menaikkan suku bunga acuan terlalu cepat tahun ini. Sebab, hal tersebut akan memperlambat pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam yang perlahan tengah bangkit.

Hal tersebut mampu menjadi katalis positif terhadap pergerakan harga komoditas termasuk barang tambang dan logam mulia. Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka menuturkan, pergerakan harga platinum pada 2018 ini bergerak ke arah positif. Pergerakan turut ditopang sejumlah stimulus mampu mendongkrak harga platinum.

Selain sentimen positif dari Bank Sentral AS, stimulus kenaikan harga platinum juga datang dari wacana peralihan platinum sebagai katalis konventor menggantikan paladium yang akan mulai terealisasi. Sejak 2017 lalu, harga paladium telah menunjukkan penguatan yang cukup signifikan. Bahkan harganya mampu mengungguli platinum.

Namun kondisi harga yang terlalu tinggi ini rupanya juga membuat pelaku industri khawatir sehingga beredar wacana peralihan penggunaan platinum sebagai katalis konvertor.

“Wacana tentang industri otomotif berbasis listrik yang akan beralih menggunakan platinum kemungkinan besar tahun ini akan ada realisasi. Meskipun belum diketahui secara pasti kapan realisasinya, namun sudah mulai bersiap sejak sekarang dan ini mengangkat sentimen positif,” jelas Ibrahim kepada wormtraders.com.

Tahun Anjing Tanah Bikin Platinum Sumringah

Sentimen lain yang cukup kuat menjadi pendorong kinclongnya harga platinum adalah berasal dari proyek infrastruktur di AS senilai US$ 1,5 triliun atau setara dengan Rp 20,400 triliun. Melansir VOA Indonesia, kebijakan Presiden AS Donald Trump bakal akan merevitalisasi infrastuktur berupa pembangunan jalan, jalan raya, pelabuhan hingga bandar udara.

“Karena platinum merupakan campuran untuk pembuatan baja, pembuatan besi, kabel dan sebagainya dan merupakan campuran untuk bahan infrastruktur, maka dengan rencana realisasi pembanguan infrastruktur di AS, akan turut mendorong melonjaknya harga platinum,” ungkap Ibrahim.

Di lain sisi, pemulihan perekonomian Cina juga turut menyebabkan tingkat konsumsi platinum di Negeri Tirai Bambu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pemulihan juga akan menjadi motor pendorong perbaikan kondisi ekonomi di negara-negara Eropa dan juga AS.

Baca juga: Paladium, Warga “Kelas Dua” yang Kian Mengilap

Salah satu penyebabnya, Cina merupakan penyerap terbesar surat utang negara (SUN) terbesar yang dikeluarkan oleh Eropa dan AS. Hampir 60 persen obligasi yang dikeluarkan negara-negara Eropa dan AS diserap oleh investor Cina.

Sebagai pelengkap, meroketnya harga barang tambang dan logam mulia turut disumbang reformasi tambang yang dilakukan Cina. Harga barang tambang menguat pascareformasi Cina. Mulai awal 2017, Cina telah memperketat izin pertambangan, mengurangi pabrik peleburan barang tambang ilegal, juga pemangkasan produksi.

“Setelah Cina mengurangi produksi barang tambang, transaksi perdagangan internasional berupa ekspor dan impor negara tersebut mengalami peningkatan. Selain itu terdapat pula peningkatan kegiatan manufaktur di Cina yang menandakan hal baik karena merupakan salah satu arti pemulihan kondisi ekonomi,” rinci Ibrahim.

Dengan berbagai faktor positif tersebut, Ibrahim memperkirakan harga platinum di tahun bershio Anjing Tanah ini akan mampu menembus kisaran US$ 1.200 per troy ons. “Untuk platinum, average (rata-rata) harga berada di level US$ 1.150 per troy ons di tahun ini,” imbuh Ibrahim.

Sementara itu, untuk perdagangan platinum awal pekan Senin (26/2), Ibrahim memperkirakan berada di posisi US$ 994,20-US$ 996,00 per troy ons.