Kemajuan teknologi dan perkembangan praktik yang diterapkan bursa lain di dunia, merekomendasikan pengembangan pasar modal dengan cara mempersingkat siklus penyelesaian transaksi bursa menjadi T+2. Sebelumnya penyelesaian transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) membutuhkan waktu T+3.

Dalam rangka penerapan Global Best Practice, Self Regulatory Origanization (SRO) yang terdiri atas BEI, Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), meluncurkan penerapan siklus penyelesaian transaksi bursa T+2. Langkah ini juga didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), anggota bursa, bank kustodian, bank pembayaran, Bank Indonesia (BI), dan pelaku pasar lainnya.

“Penerapan siklus penyelesaian transaksi bursa T+2 ini memberikan manfaat bagi industri pasar modal,” ujar Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI, Oskar Herliansyah, dalam keterangan resminya.

Manfaat itu antara lain, meningkatkan harmonisasi antar-bursa secara global, sehingga memudahkan transaksi efek lintas bursa dan/atau negara. Selain itu juga diharapkan meningkatkan likuiditas melalui percepatan reinvestment dari modal, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengurangi risiko sistemik yang dapat terjadi di pasar modal.

“Kemajuan dan integrasi sistem teknologi informasi berupa penerapan Straight Through Processing (STP), Single Investor Identification (SID), dan Rekening Dana Nasabah (RDN) memungkinkan proses alokasi dana dan efek dalam penyelesaian transaksi lebih cepat dari praktik penyelesaian saat ini, yaitu T+3,” papar Oskar.

Selama periode 2016-2018, SRO telah melakukan kajian, menyebarkan kuesioner, melakukan Focus Group Discussion, dan melaksanakan Control Self Assessment. Selain itu juga menyelenggarakan pertemuan dengan anggota bursa, bank kustodian, bank pembayaran, penyedia aplikasi di anggota bursa. Survei juga dilakukan pada nasabah, baik nasabah lokal, asing, ritel, maupun institusional.

“Dengan mempertimbangkan hal tersebut, SRO menginformasikan bahwa implementasi penyelesaian transaksi bursa T+2 akan dilaksanakan pada Senin, 26 November 2018,” ungkap dia.

CTA Banner

Hari terakhir perdagangan dengan siklus penyelesaian transaksi bursa T+3 direncanakan pada Jumat (23/11) dan hari pertama perdagangan dengan siklus penyelesaian T+2 akan dilaksanakan pada Senin (26/11). Dengan demikian, hari penyelesaian pertama dengan siklus T+2 jatuh pada hari Rabu (28/11).

Dengan implementasi siklus penyelesaian transaksi bursa T+2, diharapkan dapat mendukung upaya pasar modal Indonesia dalam menciptakan pasar yang wajar, teratur, dan efisien serta memiliki daya saing dan kredibilitas tingkat dunia.

Papan Akselerasi

BEI juga berencana membuka satu papan lagi bagi emiten, selain papan utama dan papan pengembangan, yakni papan akselerasi. Nantinya papan ini diperuntukkan bagi calon emiten berbasis komoditas seperti perkebunan dan pertambangan yang masih dalam proses pengembangan dan belum mencatatkan pendapatan.

“Kami sudah ajukan ke OJK, nanti tinggal persetujuan dari OJK,” kata Laksono Widodo, Direktur BEI.

Papan akselerasi ini nantinya akan dibedakan dengan papan utama dan juga papan pengembangan di BEI. Hal ini juga untuk mengakomodasi aturan crowdfunding dari OJK. Sebelumnya, BEI juga berencana untuk merevisi aturan soal perusahaan komoditas yang masih belum memiliki pendapatan dalam aturan 1.A.1. Rencananya aturan ini akan diselesaikan hingga akhir tahun.

Selain mengakomodasi perusahaan-perusahaan komoditas, nantinya papan ini juga akan mengakomodasi calon emiten yang berasal dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk mencatatkan perusahaannya. Terutama untuk calon emiten yang belum bisa mencatatkan laba tapi memiliki aset intangible dan tangible yang bisa dinilai.