Wall Street Cerah, Saham Infrastruktur dan Perbankan Layak Diperhitungkan

Investor sudah bisa tersenyum senang. Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan ini banyak disokong sentimen positif.

Pada perdagangan Jumat (23/2) pagi, IHSG dibuka menguat 0,50 persen ke level 6.626,15 poin. Penguatan IHSG sejalan pasar saham di negara-negara lainnya di Asia, yang mayoritas dibuka menguat.

Indeks Nikkei 225 tercatat menguat 0,23 persen. Indeks Kospi melompat 1,13 persen, indeks Hang Seng terdongkrak 1 persen, indeks Strait Times terangkat 0,71 persen, dan indeks Shanghai naik 0,06 persen.

Dorongan energi salah satunya datang dari pasar modal Amerika Serikat (AS), Wall Street, yang membawa angin segar. Sebagian besar saham-saham di Negeri Paman Sam itu menguat pada perdagangan Kamis (22/2) waktu setempat, setelah sempat terjun bebas pada Rabu (21/2). Imbal hasil obligasi negara AS pun perlahan turun setelah pembicaraan yang lebih hati-hati mengenai kenaikan tingkat suku bunga AS menenangi pasar.

Wall Street ditutup bervariasi pada Kamis. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 164,7 poin atau 0,66 persen menjadi 24.962,48.

Indeks S&P 500 menguat 2,63 poin atau setara 0,1 persen ke level 2.703,96. Sementara indeks acuan AS lainnya yaitu Nasdaq Composite ditutup dengan koreksi tipis 8,14 poin atau 0,11 persen ke posisi 7.210,09.

Imbal hasil atau yang dikenal dengan yield obligasi negara AS (US Treasury) bertenor 10 tahun turun dari posisi tertingginya dalam empat tahun menjadi 2,92 persen pada Kamis dibanding posisi sehari sebelumnya pada level 2,94 persen.

Wall Street Cerah, Saham Infrastruktur dan Perbankan Layak Diperhitungkan

Meredanya kekhawatiran kenaikan suku bunga acuan AS, US Fed Fund Rate, yang agresif, menjadi salah satu sentimen positif pendorong pergerakan pasar bursa Asia termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah dunia dan komoditas pertambangan lainnya, turut menopang penguatan IHSG. Nilai tukar mata uang dollar AS yang melemah terhadap rupiah akhirnya mendorong laju IHSG dan penguatan rupiah.

William Surya Wijaya, Vice President Research Department PT Indosurya Bersinar Sekuritas mengungkapkan, investor boleh mewaspadai gejolak yang terjadi di AS maupun secara global. Namun, jangan pernah merasa takut dan khawatir. Sebab sejatinya, kondisi fundamental perekonomian Indonesia stabil dan bahkan cenderung membaik. Ini terlihat dari cadangan devisa Indonesia yang meningkat.

Saat ini, menurut William, menjadi momentum bagi masyarakat maupun investor domestik, untuk bisa memperlihatkan daya tarik berinvestasi Indonesia. Sebab, negara-negara di dunia sedang berlomba-lomba memiliki daya tarik yang besar agar investor terutama investor lokal untuk tetap mau berinvestasi.

“Indonesia harus menciptakan daya tarik untuk berinvestasi, karena negara-negara lain di seluruh dunia sedang melakukan hal ini termasuk di pasar modalnya. Jadi jangan takut dengan gejolak yang ada, meski waspada tetap perlu dilakukan,” kata William.

Karena itu, menurutnya, saat ini tepat untuk terus berinvestasi di pasar modal. Mengingat, saat ini masih awal tahun dan menjadi baik untuk berinvestasi di pasar modal. William pun merinci beberapa sektor yang masih menarik dan bisa dilirik untuk berinvestasi. Di antaranya adalah sektor infrastruktur terutama telekomunikasi.

Wall Street Cerah, Saham Infrastruktur dan Perbankan Layak Diperhitungkan

Saham-saham yang masih layak untuk dikoleksi seperti saham PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT XL Axiata Tbk. (EXCL), PT Indosat Tbk. (ISAT), serta saham-saham perusahaan menara telekomunikasi seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG),  dan sebagainya. Saham sektor konsumsi pun masih layak diburu seperti saham PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), PT Indofood Tbk. (INDF), PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP).

Tak ketinggalan, saham-saham yang berkaitan dengan kondisi Indonesia yang tengah menggeliat membangun properti sehingga saham-saham konstruksi pun masih moncer, seperti saham PT Adhi Karya Tbk. (ADHI), PT Pembangunan Perumahan (PTPP), dan lainnya. Sektor perdagangan seperti saham PT Astra International Tbk. (ASII) pun masih menjadi incaran.

Baca juga: Saham Big Caps Paling Rentan Terdampak Volatilitas AS

Selain itu, saham sektor perbankan layak menjadi buruan lantaran kinerja sektor perbankan Indonesia cukup baik seperti saham PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Jatim Tbk. (BJTM).

Setali tiga uang, VP Research & Analysis Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckheere, mengungkapkan pasar saham Indonesia masih menarik bagi investor asing di tahun ini. Sebab, masih banyak faktor yang bisa mendorong ekonomi Indonesia yang nantinya bakal berdampak positif ke pasar saham. Beberapa di antaranya ialah faktor demografi, pertumbuhan ekonomi, ekspansi kelas menengah, serta utang yang rendah.

Besarnya jumlah masyarakat usia produktif di Indonesia dipandang mampu mendorong perekonomian yang diprediksi bakal tumbuh hingga 5,4 persen di tahun 2018 ini. Selain itu, jumlah kelas menengah yang semakin bertambah pun ikut menjadi daya tarik bagi para investor asing.

“Selain itu, jumlah utang Indonesia juga tergolong rendah dibanding negara G20 lainnya sehingga pasar saham Indonesia masih menarik di tahun ini,” terang Nico seperti dikutip dari Kontan.

Baca juga: Big Caps “Terhajar,” Saham Lain Terkena Imbas

Sektor komoditas pun dipandang jadi sektor yang paling diincar para investor asing di tahun ini lantaran perbaikan harga komoditas yang terjadi sejak akhir tahun 2017 lalu. Begitu pula saham-saham di sektor yang jadi pendukung sektor komoditas seperti saham pelayaran serta saham jasa penambangan migas seperti PT Elnusa Tbk. (ELSA) dan PT Logindo Samudramakmur Tbk. (LEAD).

Meski sudah mencetak pertumbuhan tinggi di tahun lalu, Nico pun melihat saham sektor perbankan masih tetap menarik. “Selama pertumbuhan ekonomi masih positif, sektor ini akan terus menarik bagi investor,” tandasnya.